Pemerintah dan pengelola jasa transportasi terus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas transportasi umum di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Kian hari, wajah transportasi umum di Indonesia terlihat semakin membaik. Namun, masalah kemacetan di jalan nampaknya tidak kunjung selesai. Bukankah seharusnya transportasi umum yang baik akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan tentu saja mengurangi kemacetan?

Ternyata, orang Indonesia masih malas naik transportasi umum. Menurut wakil presiden Jusuf Kalla dalam sebuah pemberitaan di CNN Indonesia, jumlah pengguna transportasi umum di Jakarta saja menurun dari 49% menjadi 19%. Sementara menurut data dari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang dikutip dari Bisnis.com, sampai Desember 2018 jumlah pengguna transportasi umum di Jabodetabek mencapai 29,9% dari total pergerakan orang di Jabodetabek. Artinya, sebagian besar masyarakat masih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum. Kira-kira apa penyebabnya?
Sulitnya transportasi umum di first mile dan last mile
Ketika kita bepergian dari Bogor ke Jakarta misalnya, tentu sangat mudah dengan naik KRL Commuter Line. Masalahnya adalah bagaimana kita berangkat dari rumah menuju stasiun kereta api, terminal bus, atau bandara? Lalu setibanya di kota tujuan, bagaimana cara kita menuju lokasi yang diinginkan? Sebagai contoh, kota Bogor hanya memiliki angkot sebagai moda transportasi umum. Untuk menjangkau daerah terluar, ongkos yang dikeluarkan harus berlipat lipat karena menyambung beberapa kali. Selain itu ketepatan waktu, keamanan, dan kenyamanannya tidak bisa diandalkan. Ojek dan taksi online pun menjadi solusi, namun kedua moda transportasi itu justru berkontribusi terhadap kemacetan. Banyak pula yang menggunakan kendaraan pribadi dari rumah dan memarkirkannya di stasiun. Akhirnya, orang akan berpikir lebih baik menggunakan kendaraan pribadi sekalian dari rumah sampai ke tujuan. Selain karena pertimbangan efisiensi waktu, untuk beberapa tujuan terkadang masih lebih hemat biaya jika menggunakan kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum. Perlu dilakukan pembenahan sistem transportasi di dalam kota agar masalah first mile dan last mile ini dapat terselesaikan.
Rute transportasi umum yang tidak efektif
Salah satu harapan pengguna transportasi umum adalah efektifitas, agar mereka dapat tiba di tujuan lebih cepat. Pertanyaannya, sudah efektifkah rute transportasi umum di Indonesia? Kita ambil contoh untuk moda transportasi bus. Hampir semua kota besar di Indonesia memiliki sistem transportasi berbasis bus khusus, atau yang kita kenal sebagai Bus Rapid Transit (BRT). Namun faktanya, banyak rute BRT yang ternyata tidak efektif karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kota Yogyakarta misalnya, rute bus Trans Jogja banyak yang berputar-putar, tidak menggunakan rute tersingkat. Tidak hanya di Yogya, di Jakarta pun masih ada beberapa rute bus Transjakarta yang berputar-putar dan sulit untuk transit ke koridor lain. Di zaman yang serba cepat ini, pilihan rute seperti itu akan ditinggalkan oleh orang banyak. Jika alasannya untuk menjangkau lebih banyak lokasi, lebih baik dibuat opsi rute langsung dan tidak langsung di koridor yang sama. Pengguna dapat memilih rute bus sesuai halte pemberhentian yang diinginkan.
Interkoneksi yang buruk
Interkoneksi antar moda transportasi menjadi salah satu kunci kesuksesan transportasi umum. Idealnya, akses untuk melakukan transit antar moda transportasi tidak boleh terlalu banyak tangga curam, jalurnya sebisa mungkin tidak membuat pengguna kehujanan dan kepanasan, terdapat fasilitas untuk membantu pengguna jasa disabilitas, dan terdapat tanda penunjuk arah (signage) serta informasi jadwal/rute yang jelas dan memudahkan. Dalam kenyataannya, proses transit antar moda transportasi di Indonesia adalah suatu hal yang melelahkan dan menyebalkan. Ambil contoh saja kereta bandara Soekarno-Hatta, anda akan kesulitan mencari informasi untuk naik kereta itu di bandara. Lokasi stasiun kereta bandara yang jauh dari terminal bandara, penumpang diharuskan naik kereta layang terlebih dahulu. Dari stasiun kereta layang ke terminal atau stasiun kereta bandara masih harus naik turun eskalator lagi. Selain menyulitkan bagi yang membawa banyak barang, petunjuk arah yang disediakan juga sangat minim. Orang yang baru pertama kali datang ke Soekarno-Hatta pasti akan kebingungan.
Pengguna kendaraan pribadi masih terlalu dimanjakan
Mengarahkan orang untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum tidak hanya perlu daya tarik dari transportasi umum, namun juga perlu daya dorong dari kendaraan pribadi. Selama harga mobil masih murah, bensin murah, parkir murah, pajak kendaraan murah, tol murah, maka pengguna kendaraan pribadi akan merasa dimanjakan dan malas beralih. Di Jepang, seluruh biaya dan perizinan yang terkait dengan kendaraan pribadi dibuat mahal dan sulit. Bahkan semakin tua umur kendaraan, maka pajak yang dibebankan pun semakin mahal. Di negara maju lainnya, diberlakukan sistem Electronic Road Pricing (ERP) yang mengharuskan pengemudi kendaraan pribadi untuk membayar sejumlah tarif jika melalui ruas jalan tertentu. Semua peraturan itu dimaksudkan untuk “memaksa” masyarakat menggunakan transportasi umum, terutama untuk bekerja sehari-hari di kota besar.
Malas jalan kaki
Transportasi umum memang tidak bisa menjangkau wilayah yang sangat kecil seperti gang sempit dan perumahan cluster. Karenanya, pengguna transportasi umum perlu berjalan kaki dari halte atau stasiun terdekat sampai ke depan rumahnya. Hal ini sangat wajar di negara manapun, dan orang Indonesia sangat malas melakukannya. Bahkan di kota besar yang memiliki beberapa wilayah dengan trotoar bagus, masih sedikit pejalan kaki yang terlihat menggunakannya. Padahal, berjalan kaki memiliki dampak positif bagi kesehatan. Banyak orang memilih menggunakan kendaraan pribadi hanya karena tidak mau berjalan kaki. Dikutip dari Liputan6, sebuah studi besar yang dilakukan para ilmuwan di Stanford University di Amerika Serikat menemukan, Indonesia merupakan negara paling malas berjalan kaki di seluruh dunia. Studi ini mengungkap, rata-rata orang Indonesia hanya berjalan 3.513 langkah setiap hari.