Tracking Posisi Kereta Api, untuk Siapa?

Dahulu kala, pernah terjadi kasus yang mencoreng nama railfans (pecinta kereta api). Kasusnya berkaitan dengan aplikasi/situs tracking posisi kereta api jarak jauh yang diperuntukkan hanya untuk pegawai PT.KAI, ternyata bocor ke tangan oknum railfans. Setelah kejadian tersebut, PT.KAI memperbaiki sistem IT mereka dan memperketat pengamanan situs internal mereka. Meskipun sekarang sudah tidak terdengar lagi kasus serupa, namun masih banyak railfans yang berharap mereka dapat melihat posisi kereta api secara real-time. Sebenarnya apa sih kegunaan tracking posisi kereta api, dan siapa saja yang seharusnya bisa mengakses informasi tersebut?

Tracking posisi kereta api di Finlandia
Baca lebih lanjut

Kereta Api Indonesia Darurat Pelestarian Sejarah

Media sosial saya belakangan ini dipenuhi diskusi panas tentang lokomotif BB 204, salah satu jenis lokomotif yang khusus ditempatkan di Sumatera Barat. Muncul kabar bahwa lokomotif BB 204 akan ditanahkan, dan tidak ada rencana dari PT. KAI untuk menyelamatkan beberapa unitnya sebagai bentuk apresiasi sejarah. Hal inilah yang menimbulkan keresahan di kalangan pecinta kereta api (railfans). Sampai saya menulis artikel ini, perjuangan para railfans dalam menyuarakan penyelamatan BB 204 masih berlangsung. Santer pula kabar, PT. KAI tidak menanggapi secara positif usulan railfans untuk menyelamatkan beberapa unit BB 204.

Lokomotif BB 204 | Foto: Yuda Nugrahadi
Baca lebih lanjut

Rakyat Jawa Barat Hebat bersama Kereta Cepat

Hmm, mungkin judulnya tampak seperti kampanye. Tapi ini bukan kampanye, karena Bung Transport tidak membahas politik. Ini hanya pemikiran saya yang terbesit ketika membaca berita tentang tarif KA Cepat Jakarta-Bandung. Dikutip dari Railway Enthusiast Digest, dikatakan bahwa tarif KA Cepat Indonesia China (KCIC) rute Jakarta-Bandung hanya USD 16 atau sekitar Rp 230.000 (kurs USD 1 = Rp 14.000). Harga yang cukup kompetitif menurut saya, mengingat waktu tempuhnya dapat dipersingkat menjadi hanya 30 menit dengan kereta cepat. Selain itu, tarif kereta api Argo Parahyangan kelas eksekutif sudah mencapai Rp 150.000 dan beberapa jasa travel sudah ada yang tembus Rp 200.000.

Baca lebih lanjut

Rasa yang Pernah Ada di Perjalanan Kereta Api

Naik kereta api memang penuh dengan nostalgia, terlebih jika anda sudah akrab menggunakan moda transportasi yang satu ini sejak dahulu kala. Saya sendiri punya memori khusus yang hingga kini masih terekam dengan baik setiap bepergian naik kereta api jarak jauh. Memori itu adalah kekayaan kuliner yang dapat kita jumpai di setiap stasiun persinggahan, yang dulu mampu kita nikmati tanpa harus menyakiti dompet. Ya, apalagi kalau bukan pedagang asongan di stasiun kereta api. Kali ini saya akan bernostalgia petualangan kuliner bersama kereta api Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) yang melayani rute Jakarta Pasar Senen ke Surabaya Gubeng lewat jalur selatan. Kenapa GBMS, karena rutenya termasuk yang terpanjang dan melewati banyak sekali stasiun dengan corak makanan yang berbeda.

Baca lebih lanjut

Dilarang Makan dan Minum di Dalam Kereta?

Sebelum saya lanjutkan, perlu saya perjelas “kereta” yang dimaksud disini adalah kereta komuter/perkotaan seperti KRL Commuter Line dan MRT Jakarta. Jika anda pernah naik kedua moda transportasi itu, anda bisa melihat tanda larangan makan dan minum. Di beberapa kesempatan, saya melihat petugas PKD/Walka di dalam kereta memperingatkan penumpang yang kedapatan makan dan minum. Namun di sejumlah kesempatan lain, petugas membiarkan saja penumpang yang makan dan minum di dalam kereta. Aturan ini juga sempat menimbulkan polemik dan perdebatan yang cukup menarik di masyarakat. Selama bulan Ramadan, pihak MRT Jakarta mengizinkan penumpang untuk berbuka puasa di peron dan kereta asalkan hanya dengan air dan kurma. Berkebalikan dengan itu, di KRL Commuter Line penumpang diperbolehkan berbuka dengan apapun selama dapat menjaga kebersihan. MRT Jakarta memang dikenal ketat dan kaku perihal aturan makan dan minum, sampai-sampai di stasiun saja sulit sekali menemukan tempat sampah. Lantas, apa sebetulnya tujuan diciptakannya aturan ini?

Baca lebih lanjut