Kereta Api Indonesia Darurat Pelestarian Sejarah

Media sosial saya belakangan ini dipenuhi diskusi panas tentang lokomotif BB 204, salah satu jenis lokomotif yang khusus ditempatkan di Sumatera Barat. Muncul kabar bahwa lokomotif BB 204 akan ditanahkan, dan tidak ada rencana dari PT. KAI untuk menyelamatkan beberapa unitnya sebagai bentuk apresiasi sejarah. Hal inilah yang menimbulkan keresahan di kalangan pecinta kereta api (railfans). Sampai saya menulis artikel ini, perjuangan para railfans dalam menyuarakan penyelamatan BB 204 masih berlangsung. Santer pula kabar, PT. KAI tidak menanggapi secara positif usulan railfans untuk menyelamatkan beberapa unit BB 204.

Lokomotif BB 204 | Foto: Yuda Nugrahadi

Keresahan railfans tersebut bukanlah tanpa alasan. BB 204 adalah lokomotif yang sangat langka, dan punya nilai sejarah yang tinggi di jagat perkeretaapian dunia. Bagaimana tidak, BB 204 adalah satu-satunya lokomotif diesel elektrik untuk jalur bergerigi yang masih ada di dunia. Beberapa negara yang masih mengoperasikan jalur bergerigi, kebanyakan dari mereka mengoperasikan lokomotif uap, lokomotif listrik, KRL, atau KRD. Sebagai contoh di Swiss, seluruh jalur bergerigi di negara itu dilayani oleh KRL dan lokomotif listrik. Di India, jalur bergerigi dilayani dengan lokomotif uap. Sementara di Amerika, jalur bergerigi yang masih bertahan dilayani dengan KRD dan lokomotif uap. Jadi bisa dibilang, semua orang di dunia ini harus datang ke Sumatera Barat jika ingin melihat secara langsung lokomotif diesel elektrik untuk jalur bergerigi. Maka dari itu sangatlah penting untuk menyelamatkan 1-2 unit lokomotif BB 204, minimal dipajang sebagai monumen. Sebab ini bukan hanya bagian dari sejarah nasional, tapi juga sejarah dunia.

Polemik BB 204 itu mengingatkan saya terhadap kasus-kasus lain terkait pelestarian sejarah kereta api di Indonesia. Kebanyakan berujung pada ketidakjelasan dan bahkan penghilangan aset sejarah tersebut. Sebagai contoh adalah kereta penumpang angkatan lama, mulai dari tahun 50-an sampai 90-an yang terdiri dari berbagai macam kelas dan fungsi. Sampai sekarang tidak jelas nasib kereta-kereta tersebut setelah dipensiunkan. Namun jika melihat belum adanya area khusus untuk menempatkan kereta penumpang di museum kereta api Ambarawa dan Bondowoso, sepertinya kereta-kereta tua itu tidak akan terselamatkan. Selain kereta penumpang lama, KRL ekonomi juga menunggu kejelasan nasib. Sekali lagi, karena sampai saat ini tidak area yang dikhususkan untuk menempatkan KRL di salah satu museum, sepertinya nasibnya pun akan sama dengan kereta penumpang lama.

PT. KAI tidak sadar bahwa yang namanya sejarah itu bukan hanya lokomotif uap dan kereta kayu jaman Belanda. Sejarah itu juga tidak harus yang berkaitan langsung dengan perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Semua aset perkeretaapian sejatinya adalah bagian dari sejarah panjang perjalanan kereta api di negara ini. Semua itu adalah saksi bisu perkembangan kereta api dari masa ke masa, bagaimana kereta api terus berubah dan berinovasi. Bagaimana generasi mendatang akan tahu perjuangan PT. KAI dalam memperbaiki layanan kereta api, jika kereta penumpang tua dan KRL ekonomi tidak diselamatkan sebagai sarana pembelajaran sejarah? Bagaimana masyarakat bisa menghargai sejarah kalau yang punya asetnya saja tidak menghargai sejarah? Banyak hal yang bisa disampaikan dari sebuah kereta yang dipajang. Satu unit KRL ekonomi misalnya, banyak sekali cerita di dalamnya. KRL ekonomi pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari roda perekonomian masyarakat ibukota dan daerah penyangganya. KRL ekonomi pernah menjadi miniatur kehidupan sosial rakyat Indonesia. Sejarah itu tidak hanya tentang teknis keretanya, tetapi juga nilai sosial-budaya yang berhasil diciptakannya.

Salah satu kereta penumpang yang dipajang di Railway Museum Omiya, Jepang

Saya pikir PT. KAI perlu belajar dari kegiatan pelestarian kereta api di luar negeri. Banyak negara mampu membuat museum kereta api yang benar-benar “hidup”, bukan karena ada kereta api yang bisa berjalan di dalamnya, tetapi karena pengunjung dibuat seolah-olah sedang berjalan dari waktu ke waktu. Kegiatan pelestarian juga tidak harus sepenuhnya menggunakan biaya sendiri. PT. KAI bisa menggandeng para pecinta kereta api dan pihak swasta untuk sekedar membersihkan dan memperbaiki kereta api kuno atau stasiun kuno. Pada prinsipnya, wisata sejarah itu pasti bisa dimaksimalkan untuk memperoleh pendapatan tambahan. PT. KAI ataupun pihak swasta yang diajak bermitra bisa membangun penginapan di sekitar museum, membangun restoran bertema kereta api, dan lain sebagainya. Tidak perlu takut kehilangan uang akibat kegiatan pelestarian, karena kegiatan pelestarian itu sendiri mampu menghasilkan uang tanpa harus menghilangkan sejarah.

Tinggalkan komentar