
Naik kereta api memang penuh dengan nostalgia, terlebih jika anda sudah akrab menggunakan moda transportasi yang satu ini sejak dahulu kala. Saya sendiri punya memori khusus yang hingga kini masih terekam dengan baik setiap bepergian naik kereta api jarak jauh. Memori itu adalah kekayaan kuliner yang dapat kita jumpai di setiap stasiun persinggahan, yang dulu mampu kita nikmati tanpa harus menyakiti dompet. Ya, apalagi kalau bukan pedagang asongan di stasiun kereta api. Kali ini saya akan bernostalgia petualangan kuliner bersama kereta api Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) yang melayani rute Jakarta Pasar Senen ke Surabaya Gubeng lewat jalur selatan. Kenapa GBMS, karena rutenya termasuk yang terpanjang dan melewati banyak sekali stasiun dengan corak makanan yang berbeda.
Nasi Rames Stasiun Cirebon Prujakan

Jika berangkat dari Jakarta, stasiun “peristirahatan” pertama bagi para penumpang kereta api GBMS untuk mengisi perut mereka adalah Cirebon Prujakan. Stasiun yang dikhususkan untuk melayani kereta api ekonomi ini memiliki beberapa pilihan makanan dan minuman murah meriah, namun yang paling banyak dijajakan kepada penumpang saat kereta api berhenti adalah nasi rames bungkus. Harga per bungkusnya berkisar antara 5 ribu hingga 10 ribu rupiah, tergantung dari isi nasi ramesnya. Sejak PT. KAI melakukan penertiban terhadap pedagang asongan, nasi rames bungkus ini sudah tidak dijajakan lagi di dalam kereta. Namun, anda masih bisa membelinya di warung-warung yang terdapat di ujung peron 1 stasiun Cirebon Prujakan. Sayangnya, dengan harga yang lebih mahal dan harus berkejaran dengan waktu agar tidak ketinggalan kereta api yang anda naiki.
Tempe Mendoan, Sale Pisang, Getuk Goreng dan Nopia Stasiun Purwokerto

Pemberhentian berikutnya stasiun Purwokerto. Bisa dibilang dari setiap stasiun yang disinggahi, Purwokerto ini adalah tempat favorit saya untuk memanjakan lidah. Bagaimana tidak, empat makanan khas sekaligus dijajakan di stasiun ini. Jika bepergian bersama-sama, saya selalu minta tolong dibangunkan di stasiun Purwokerto apabila saya tertidur, hanya demi menikmati kelezatan tempe mendoan dan berburu sale pisang, getuk goreng, serta nopia. Pedagang umumnya menjajakan tempe mendoan dengan wadah besar, dan menumpuk tempenya sampai menggunung. Aroma yang khas dari tempe mendoan segera menyeruak di dalam kereta begitu mereka menawarkan dagangannya. Untuk dapat menikmati tempe mendoan, anda cukup merogoh kocek seribu rupiah per satu tempe. Biasanya penjual juga menyediakan nasi bungkus dengan lauk sayur, bihun, dan telur sebagai pelengkap tempe mendoan. Sementara itu untuk sale pisang dan nopia dibungkus dalam kemasan plastik, sedangkan getuk goreng ditempatkan dalam wadah anyaman. Sayangnya setelah penertiban pedagang asongan, di stasiun Purwokerto tidak disediakan warung-warung yang menyediakan makanan-makanan tersebut dengan harga terjangkau. Jika ingin, anda harus membelinya di restoran/kafe yang ada di stasiun, dengan harga 2 hingga 3 kali lipat lebih mahal.
Nasi Gudeg Stasiun Lempuyangan

Stasiun Lempuyangan adalah stasiun besar di Yogyakarta yang dikhususkan untuk melayani kereta api ekonomi. Setibanya di stasiun ini, kita dapat menjumpai mbok-mbok berpakaian tradisional Jawa dengan baskom besar yang di dalamnya terdapat nasi bungkus. Mereka ini adalah penjual nasi gudeg yang siap menjajakan dagangannya kepada penumpang kereta api. Nasi gudegnya memang sederhana dan tidak selengkap jika kita membelinya di warung gudeg terkenal, namun apa yang disajikan tentu sebanding dengan harganya yang murah, hanya 8 ribu rupiah saja. Porsinya pun sudah cukup untuk mengobati perut yang lapar. Setelah penertiban pedagang asongan yang dilakukan oleh PT. KAI, mbok-mbok penjual nasi gudeg ini masih diberikan tempat berupa lapak kecil di ujung peron 1 stasiun Lempuyangan. Meskipun sekarang harganya tidak semurah dulu, tetapi keramahan penjual dan cita rasa yang ditawarkan tidak berubah. Jika kereta api anda berhenti cukup lama di Lempuyangan, nasi gudeg ini patut anda coba.
Pecel Pincuk Stasiun Madiun

Stasiun berikutnya yang memiliki menu makan khas di sepanjang rute kereta api GBMS adalah stasiun Madiun. Madiun memang terkenal akan pecelnya, yaitu pecel pincuk. Pecel pincuk sendiri memiliki porsi yang tidak banyak, namun rasanya akan membuat ketagihan siapapun yang mencobanya. Sebelum penertiban yang dilakukan oleh PT. KAI, pedagang pecel pincuk menjajakan dagagannya sampai ke dalam kereta. Namun semenjak tidak diperbolehkan, mereka berjualan di warung-warung yang terdapat di peron 1 stasiun Madiun. Pecel yang dijual di warung peron stasiun ini dikenal pula dengan sebutan “pecel ekspres”, karena pelayanannya yang begitu cepat untuk menyesuaikan dengan penumpang yang takut tertinggal kereta api yang mereka naiki.
Bagaimana bung, sudah bangkitkah memori anda akan rasa yang pernah ada di perjalanan kereta? Oh ya, jangan lupakan juga kopi dan pop mie yang dapat kita nikmati sambil menunggu tiba di salah satu stasiun yang saya sebutkan di atas. Pengalaman-pengalaman itu mungkin tidak bisa kita jumpai lagi di kereta api saat ini, tetapi kekayaan kuliner masing-masing daerah tetap dapat kita nikmati setibanya di kota tujuan.