Mempertanyakan Netralitas Pecinta Transportasi

Pecinta transportasi atau pecinta perusahaan transportasi? Bagi saya, perbedaan antara keduanya hanya pada fokus perhatian. Pecinta transportasi akan fokus pada moda transportasi yang ia gemari, apapun perusahaannya. Sementara pecinta perusahaan transportasi hanya akan berfokus pada perusahaan tertentu. Di dunia railfans/pecinta kereta api, saat ini sedang populer istilah bemper dan hater. Di dunia busmania/pecinta bus, dikenal juga istilah mania rasa owner. Mungkin di kalangan avgeek/pecinta pesawat dan penggemar moda lain juga ada istilah serupa, saya hanya belum tahu. Istilah-istilah tersebut merujuk pada posisi seorang pecinta ketika dihadapkan pada kinerja perusahaan pengelola jasa transportasi yang digemarinya.

Seseorang yang benar-benar cinta, tentu akan menyampaikan sesuatu demi kebaikan orang yang ia cintai, terlepas dari ini menyenangkan atau tidak. Orang tua sering memarahi anaknya ketika si anak berbuat salah, agar tidak diulangi lagi kesalahan yang sama. Itu karena orang tua cinta pada anaknya. Hal ini berlaku juga untuk pecinta transportasi. Semakin cinta, seharusnya semakin tumbuh sikap netral. Apa yang baik maka diapresiasi, apa yang buruk maka dikritisi. Perlu dipahami bahwa netral tidak sama dengan tidak peduli/apatis. Netralitas menunjukkan sikap apa adanya sesuai fakta. Semangatnya adalah menyampaikan kebenaran dan kebaikan.

Jika berpegang pada logika di atas, maka apresiasi dan kritik yang disampaikan oleh para pecinta seharusnya dianggap wajar oleh perusahaan transportasi maupun oleh sesama pecinta. Namun sangat disayangkan, saat ini telah terjadi tarikan dan dorongan baik dari perusahaan maupun dari sesama pecinta, yang menyebabkan netralitas pecinta transportasi menjadi goyah. Perusahaan dan beberapa pecinta seringkali menanggapi apresiasi dan kritik secara berlebihan. Hal ini menarik para pecinta yang kerap memberikan apresiasi untuk semakin bungkam terhadap kesalahan perusahaan, serta berusaha membela mati-matian apapun kondisinya. Sebaliknya, muncul dorongan bagi para pecinta yang kerap memberikan kritik agar berhenti mengkritisi perusahaan dan pada akhirnya menciptakan stigma negatif pada perusahaan. Para pecinta yang sudah termakan “tarikan” dan “dorongan” tersebut kemudian terpecah menjadi dua kubu yang saling berseteru. Drama bemper dan hater lahir dari sini.

Melihat situasi tersebut, ada baiknya kita lebih bijak dalam berdiskusi dengan sesama pecinta maupun perusahaan transportasi. Tidak perlu menjauhi mereka secara fisik, cukup dipegang dalam ingatan bahwa mereka mungkin saja punya kepentingan tertentu. Sebagai pecinta transportasi yang punya idealisme dan netralitas, sudah saatnya kita berkontribusi dalam arti yang sesungguhnya. Hati-hati dengan istilah “kontribusi” yang sering digaungkan oleh perusahaan, karena seringkali dimanfaatkan sebagai tarikan untuk membela perusahaan secara buta. Kontribusi yang sesungguhnya adalah menyampaikan kebenaran untuk kebaikan bersama. Begitu pula kita harus hati-hati terhadap dorongan-dorongan yang mengarahkan pada ujaran kebencian terhadap perusahaan. Berikan kritik ketika perusahaan salah, dan berikan apresiasi ketika perusahaan menorehkan prestasi. Pecinta transportasi idealnya menjadi jembatan bagi masyarakat, perusahaan, dan sesama pecinta. Tentu saja hal itu bisa terwujud jika “jembatannya” sama kuat di semua sisi (adil dan netral).

Tinggalkan komentar